Diskusi Publik dan Peluncuran Buku “Dialog Sosial dan Masa Depan Perundingan Kolektif di Indonesia”
Peluncuran buku “Dinamika Perundingan dan Perjanjian Kolektif di Indonesia: Analisis Dampak Undang-Undang Cipta Kerja

Pada 13 Agustus 2025 lalu, PTP SPERBUPAS GSBI PT Panarub Industry mengadakan diskusi publik dan peluncuran buku “Dinamika Perundingan dan Perjanjian Kolektif di Indonesia: Analisis Dampak Undang-Undang Cipta Kerja.
Kegiatan yang dilaksanakan di Aula HRD PT Panarub Industry Kota Tangerang ini diikuti oleh perwakilan serikat pekerja dari sejumlah sektor, akademisi dan peneliti perburuhan, organisasi masyarakat sipil, dan perwakilan Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangerang.
Buku ini berupaya untuk memotret dinamika serikat buruh dan perundingan kolektif di perusahaan garmen dan alas kaki di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Penelitian ini merupakan bagian dari keterlibatan serikat buruh TGSL dalam program Data Academy dan Makin Terang dalam periode 2020-2025 yang difasilitasi oleh Trade Union Rights Centre dan Gajimu/WageIndicator, dengan dukungan dana dari Laudes Foundation dan Mondiaal FNV.
Sebagai salah satu penulis buku, Syaukani Ichsan menjabarkan secara singkat intisari dari buku. Bagi Ichsan, ada beberapa strategi untuk memperkuat kekuatan kolektif menuju perundingan kolektif, salah satunya adalah demokratisasi di tempat kerja.
“Demokratisasi di tempat kerja itu juga meletakkan serikat buruh itu setara sebenarnya; dia bisa menentukan bersama-sama misalnya berapa sih target produksi yang ideal untuk tahun ini, menentukan bersama-sama bonus produksi, menentukan bersama-sama perlukah kita menggunakan tenaga kerja tambahan/tidak tetab, dsb,” jelas Ichsan.
Menanggapi isi buku ini, Ketua Umum DPP FSB GARTEKS Trisnur Priyanto mengatakan buku ini adalah cakrawala baru dalam melihat tren perundingan.
“Menarik bagi saya sepanjang sepanjang tahun 2022-2024 tercatat dari 650an perundingan mengenai upah, hanya 209 perundingan yang menghasilkan kesepakatan dengan peningkatan. Sisanya berakhir tanpa kesepakatan”, ujarnya.
Trisnur juga mengingatkan untuk tidak terjebak dalam negosiasi berbasis posisi tetapi negosiasi berbasis kepentingan yakni kepentingan buruh. Dengan begitu, serikat pekerja tidak mundur meski sadar posisi buruh - majikan yang tidak akan pernah seimbang.
Menyambut penyampaian Trisnur, Ketua Bidang Riset, Penelitian dan Pengembangan Organisasi SPN Sugianto menegaskan dialog sosial merupakan wujud kesetaraan dan berkeadilan, yakni dua pihak yang awalnya tidak dalam posisi seimbang duduk bersama.
“Selanjutnya serikat buruh harus memegang nilai-nilai perjuangannya, memantapkan kekuatan berunding, membangun gerakan, dan yang paling penting melibatkan seluruh anggota dalam perundingan. Beri penyadaran kepada anggota bahwa perjuangan PKB adalah wujud kesejahteraan bagi penghidupan pekerja dan keluarganya.” lanjutnya.
Buku ini bisa memberikan pengalaman dan rujukan dalam perundingan karena mendokumentasikan pengalaman berunding kolektif berbagai serikat buruh. Hal ini disampaikan oleh Agus Darsana, Ketua Bidang Humas dan Infokom FSP TSK SPSI.
Menurutnya, buku ini baik sebagai media belajar memperkuat posisi tawar serikat khususnya menghadapi masif-nya UU Cipta Kerja, apalagi untuk serikat buruh yang baru berdiri, baru belajar, dan belum punya pengalaman berunding.
Dalam kondisi penurunan standar hak ketenagakerjaan pasca Undang-undang Cipta Kerja, Bagus Santoso sebagai Kepala Departemen Diklat-Propaganda GSBI menyatakan hantaman regulasi cipta kerja ke dalam PKB menunjukkan demokratisasi gerakan sosial sedang di-down-grade-kan dan muncul pemikiran ‘buat apa berunding?’.
“Dalam kondisi ini hanya persatuan dan daya tahan perjuangan Serikat Buruh yang memberi kekuatan bertahan dan melawan.” tutupnya.
Kegiatan diskusi dilanjutkan dengan peluncuran buku yang ditandai dengan pemberian buku secara simbolis oleh penulis kepada perwakilan serikat buruh dan instansi yang hadir.
Sebelum berakhir peserta disuguhkan dengan pembacaan puisi dari seorang penyair dan aktivis buruh yang dikabarkan hilang pada jaman orde baru yakni Wiji Thukul yang berjudul “Makin Terang.” Dengan suara menggelegar Dwi Martini, Ketua PTP SPERBUPAS GSBI PT Panarub Industry berhasil membakar semangat peserta yang hadir.
